Pakar Ungkap Sampah Organik di Bali Bisa Diolah Jadi Atap Rumah, Begini Caranya
Pakar lingkungan Universitas Udayana, Ni Luh Kartini, mengungkapkan bahwa tumpukan sampah dan sisa hasil pertanian di Bali memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai campuran material genteng. Pernyataan tersebut disampaikan seusai menghadiri seminar 100 tahun Rarud Batur di Kintamani, Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, volume sampah di Pulau Dewata didominasi oleh limbah organik yang mencapai angka 65 hingga 90 persen. Melalui teknologi pengolahan tertentu, sampah daun dan sisa tanaman dapat diubah menjadi bentuk bubuk yang berfungsi sebagai perekat serta pelapis genteng.
"Sampah daun-daunan misalnya, bagaimana itu dapat dijadikan atap. Karena 65 persen sampai 90 persen sampah di Bali itu organik," ujar Kartini menjelaskan potensi besar limbah tersebut.
Ia menambahkan bahwa proses pengolahan bahan alami ini melibatkan tahapan pelumuran, pengeringan, hingga pelapisan perekat khusus agar layak dan kuat digunakan sebagai atap rumah. Meski mendukung penuh gagasan pemanfaatan material alami, ia menilai persiapan matang tetap diperlukan terutama dalam hal ketersediaan bahan baku.
Saat ini, sebagian besar warga di Bali masih mengandalkan asbes atau kayu sebagai penutup bangunan, yang dinilai kurang ideal bagi kesehatan jangka panjang dibandingkan genteng konvensional.
Artikel Lainnya
Museum Subak mengenalkan kembali filosofi pertanian tradisional Bali melalui pemutaran film animasi berjudul Tenggala di...
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Badung mendapati puluhan data warga yang telah berpulang masih tercantum di dalam sistem...
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi angin kencang yang melanda seluruh ...
Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama merilis jadwal resmi pelaksanaan ibadah salat wajib harian di wilayah ...
Umat Muslim di wilayah Denpasar dan sekitarnya memerlukan panduan waktu yang akurat untuk menjalankan kewajiban ibadah h...